Kamis, 09 Agustus 2012

EMAK


Ini adalah kisah seorang Ibu. Perjuangan seorang ibu dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Beliau adalah seorang wanita yang tegar dan sabar dalam menjalani hidupnya. Ia menikah dengan seorang lelaki yang tidak disetujui oleh orang tuanya. Hiduplah ia bersama suaminya meniti hari bersama tanpa restu dari kedua orangtua. Baru pada kelahiran puteri ketiganyalah ia dan suaminya diterima oleh keluarga. Tidak seperti keluarga-keluarga yang baru membina rumah tangga yang sedikit-sedikit masih ditopang dan dibantu oleh kedua orang tua. Mereka hidup mandiri sejak awal pernikahan.



Sebagai seorang wanita yang hidup didaerah pesisir, ia membantu suami dengan bekerja sebagai penjual ikan di pasar. Sehabis sholat shubuh ia berangkat untuk berjualan ikan dipasar. Siang hari baru pulang lalu setelah itu mencari ikan dipasar untuk dipindang sampai maghrib. Begitu rutinitasnya sehari-hari. Sedangkan suaminya berprofesi sebagai seorang nelayan.
Pada saat ia hamil tua, saat mengandung anak terakhirnya. Sang suami nekat untuk tetap pergi melaut karena tuntutan ekonomi yang semakin mencekik. Akhirnya berangkatlah sang suami pergi melaut. Sedangkan sang istri harap-harap cemas karena perutnya dari waktu kewaktu semakin sakit, tanda-tanda ia akan melahirkan. Di rumahnya ia menunggu sang suami dengan sabarnya. Ia berharap sang suami segera datang karena perutnya semakin sakit. Akhirnya tanpa didampingi sang suami, ia melahirkan sendiri tanpa bidan yang membantu proses persalinan. Tanpa diketahui oleh seorangpun dia melahirkan. Ia hampir mati karena pendarahan. Di saat-saat genting tersebut akhirnya ada salah seorang kerabat yang mengetahui dan segera membawanya ke rumah sakit. Namun hal tersebut diketahui setelah anaknya lahir. Alhamdulillah nyawa ibu dan bayi selamat. Akhirnya lahirlah putera terakhir mereka. Seorang anak yang kelak akan menjadi tumpuan harapan kedua orangtua. Anak yang akan menjadi kebanggaan kedua orangtua.
Anak laki-laki satu-satunya sekaligus anak bungsu tersebut tumbuh sehat dan cerdas. Sejak kecil ia sudah menjadi anak yang cerdas dan membanggakan kedua orangtua bahkan guru-gurunya. Sejak SD sudah biasa memenangkan perlombaan antar sekolah se Kabupaten. Walaupun berasal dari sekolah tidak terkenal namun dapat bersaing dengan sekolah favorit di Kota. Hal ini sudah cukup membuat Ibu dan bapaknya bangga dengan putera bungsunya tersebut. Hingga mereka bertekad untuk terus menyekolahkan puteranya ke jenjang setinggi-tingginya.
Himpitan ekonomi serta biaya sekolah yang tinggi hal tersebut tidak membuat kedua orangtua tersebut berkecil hati. Tanpa sepengetahuan puteranya ia membanting tulang dan mencari uang tambahan. Ia berjualan kue dengan dibantu salah satu puterinya yang belum menikah. Hal ini dilakukan ketika tak musim melaut atau saat hasil laut sedang sepi. Pekerjaan yang terus dilakukan untuk mendapatkan uang untuk biaya sekolah anaknya bungsunya tersebut. Pekerjaan ini dilakukan saat sang anak duduk di bangku SMP-SMA. Karena mahalnya biaya SPP serta buku-buku pelajaran. Hingga tiba saatnya sang anak masuk ke sekolah menengah atas. Ia diterima di sekolah favorit di kota tuak. Biaya masuk untuk seolah disana setinggi langit. Namun kedua orangtua tersebut tetap bersikeras untuk menyekolahkan puteranya disana. Mereka bekerja keras membanting tulang untuk menyekolahkan puteranya.
 
Pernah suatu ketika saat putranya duduk di bangku SMA, sang Ibu bersedih karena sang anak minta uang untuk biaya SPP dan beli buku. Hingga sang anak menangis dan mutung karena tidak diberi. Sedangkan pada saat itu sang Ibu tak mempunyai uang sepeser pun. Akhirnya ia mencari hutangan pada tetangga. Hal ini pun tanpa diketahui oleh puteranya.
Walaupun tergolong tidak mampu namun kedua orangtua ini mempunyai hati yang besar. Mereka tidak pernah sekalipun merasa miskin. Bahkan tak pernah sekalipun mereka berhubungan dengan bank untuk mendapatkan hutangan uang. Walaupun tak mampu membayar biaya SPP namun ia tak pernah mau untuk mencari keringanan biaya. Hingga saat ini puteranya tersebut kuliah di salah satu universitas terkenal di Indonesia. Tak pernah anak tersebut diperbolehkan untuk mengambil uang beasiswa apalagi mencarai dengan persyaratan surat keterangan miskin.
“Le, dibawahmu masih ada yang lebih membutuhkan daripada kamu. Dan kalau kamu minta surat keringanan sama saja mendoakan ibumu miskin. Selama ibu-bapakmu ini masih kuat bekerja jangan sekali-sekali ambil uang seperti itu. Yang terpenting doakan saja ibu-bapakmu ini sehat dan kerjanya lancar ” Kata sang ibu menasehati puteranya.
Saat ini kehidupan mereka sudah mulai membaik. Semua anaknya telah berkeluarga. Tinggal putera bungsunya yang masih kuliah. Walaupun tubuhnya sudah merenta bahkan untuk sholatpun harus sambil duduk namun ia tetap bekerja sebagai penjual ikan di pasar. Rutinitas hariannya tetap ia lakukan. Sedangkan suaminya sudah tidak mampu untuk bekerja menghadang laut karena tubuhnya yang telah renta.
Dia adalah sosok ibu yang luar biasa. Walaupun dia dan suaminya buta huruf dan tidak dapat membaca alquran. Namun Tuhan lebih tahu siapa orang tua yang ikhlas dan yang tidak. Bukan fasih dan pandai melantunkan ayat suci. Tapi Tuhan tahu, bagaimana dia merawat dan mendidik anak-anaknya.[]DP

06.22 AM
Malang, 8 Agusutus 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar