Ini adalah
kisah seorang Ibu. Perjuangan seorang ibu dalam mendidik dan membesarkan
anak-anaknya. Beliau adalah seorang wanita yang tegar dan sabar dalam menjalani
hidupnya. Ia menikah dengan seorang lelaki yang tidak disetujui oleh orang
tuanya. Hiduplah ia bersama suaminya meniti hari bersama tanpa restu dari kedua
orangtua. Baru pada kelahiran puteri ketiganyalah ia dan suaminya diterima oleh
keluarga. Tidak seperti keluarga-keluarga yang baru membina rumah tangga yang
sedikit-sedikit masih ditopang dan dibantu oleh kedua orang tua. Mereka hidup
mandiri sejak awal pernikahan.
Sebagai
seorang wanita yang hidup didaerah pesisir, ia membantu suami dengan bekerja
sebagai penjual ikan di pasar. Sehabis sholat shubuh ia berangkat untuk
berjualan ikan dipasar. Siang hari baru pulang lalu setelah itu mencari ikan
dipasar untuk dipindang sampai maghrib. Begitu rutinitasnya sehari-hari. Sedangkan
suaminya berprofesi sebagai seorang nelayan.
Pada saat ia
hamil tua, saat mengandung anak terakhirnya. Sang suami nekat untuk tetap pergi
melaut karena tuntutan ekonomi yang semakin mencekik. Akhirnya berangkatlah sang
suami pergi melaut. Sedangkan sang istri harap-harap cemas karena perutnya dari
waktu kewaktu semakin sakit, tanda-tanda ia akan melahirkan. Di rumahnya ia
menunggu sang suami dengan sabarnya. Ia berharap sang suami segera datang
karena perutnya semakin sakit. Akhirnya tanpa didampingi sang suami, ia
melahirkan sendiri tanpa bidan yang membantu proses persalinan. Tanpa diketahui
oleh seorangpun dia melahirkan. Ia hampir mati karena pendarahan. Di saat-saat
genting tersebut akhirnya ada salah seorang kerabat yang mengetahui dan segera membawanya
ke rumah sakit. Namun hal tersebut diketahui setelah anaknya lahir.
Alhamdulillah nyawa ibu dan bayi selamat. Akhirnya lahirlah putera terakhir mereka.
Seorang anak yang kelak akan menjadi tumpuan harapan kedua orangtua. Anak yang
akan menjadi kebanggaan kedua orangtua.
Anak
laki-laki satu-satunya sekaligus anak bungsu tersebut tumbuh sehat dan cerdas. Sejak
kecil ia sudah menjadi anak yang cerdas dan membanggakan kedua orangtua bahkan guru-gurunya.
Sejak SD sudah biasa memenangkan perlombaan antar sekolah se Kabupaten.
Walaupun berasal dari sekolah tidak terkenal namun dapat bersaing dengan
sekolah favorit di Kota. Hal ini sudah cukup membuat Ibu dan bapaknya bangga
dengan putera bungsunya tersebut. Hingga mereka bertekad untuk terus
menyekolahkan puteranya ke jenjang setinggi-tingginya.
Himpitan
ekonomi serta biaya sekolah yang tinggi hal tersebut tidak membuat kedua
orangtua tersebut berkecil hati. Tanpa sepengetahuan puteranya ia membanting
tulang dan mencari uang tambahan. Ia berjualan kue dengan dibantu salah satu
puterinya yang belum menikah. Hal ini dilakukan ketika tak musim melaut atau
saat hasil laut sedang sepi. Pekerjaan yang terus dilakukan untuk mendapatkan
uang untuk biaya sekolah anaknya bungsunya tersebut. Pekerjaan ini dilakukan
saat sang anak duduk di bangku SMP-SMA. Karena mahalnya biaya SPP serta buku-buku
pelajaran. Hingga tiba saatnya sang anak masuk ke sekolah menengah atas. Ia
diterima di sekolah favorit di kota tuak. Biaya masuk untuk seolah disana
setinggi langit. Namun kedua orangtua tersebut tetap bersikeras untuk
menyekolahkan puteranya disana. Mereka bekerja keras membanting tulang untuk
menyekolahkan puteranya.
Pernah suatu
ketika saat putranya duduk di bangku SMA, sang Ibu bersedih karena sang anak
minta uang untuk biaya SPP dan beli buku. Hingga sang anak menangis dan mutung
karena tidak diberi. Sedangkan pada saat itu sang Ibu tak mempunyai uang
sepeser pun. Akhirnya ia mencari hutangan pada tetangga. Hal ini pun tanpa
diketahui oleh puteranya.
Walaupun tergolong
tidak mampu namun kedua orangtua ini mempunyai hati yang besar. Mereka tidak
pernah sekalipun merasa miskin. Bahkan tak pernah sekalipun mereka berhubungan
dengan bank untuk mendapatkan hutangan uang. Walaupun tak mampu membayar biaya
SPP namun ia tak pernah mau untuk mencari keringanan biaya. Hingga saat ini puteranya
tersebut kuliah di salah satu universitas terkenal di Indonesia. Tak pernah
anak tersebut diperbolehkan untuk mengambil uang beasiswa apalagi mencarai
dengan persyaratan surat keterangan miskin.
“Le, dibawahmu masih
ada yang lebih membutuhkan daripada kamu. Dan kalau kamu minta surat keringanan
sama saja mendoakan ibumu miskin. Selama
ibu-bapakmu ini masih kuat bekerja jangan sekali-sekali ambil uang seperti itu.
Yang terpenting doakan saja ibu-bapakmu ini sehat dan kerjanya lancar ”
Kata sang ibu menasehati puteranya.
Saat ini
kehidupan mereka sudah mulai membaik. Semua anaknya telah berkeluarga. Tinggal
putera bungsunya yang masih kuliah. Walaupun tubuhnya sudah merenta bahkan
untuk sholatpun harus sambil duduk namun ia tetap bekerja sebagai penjual ikan
di pasar. Rutinitas hariannya tetap ia lakukan. Sedangkan suaminya sudah tidak
mampu untuk bekerja menghadang laut karena tubuhnya yang telah renta.
Dia adalah sosok
ibu yang luar biasa. Walaupun dia dan suaminya buta huruf dan tidak dapat
membaca alquran. Namun Tuhan lebih tahu siapa orang tua yang ikhlas dan yang
tidak. Bukan fasih dan pandai melantunkan ayat suci. Tapi Tuhan tahu,
bagaimana dia merawat dan mendidik anak-anaknya.[]DP
06.22 AM
Malang, 8 Agusutus 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar