Kamis, 12 Desember 2013

Teman Jahat dan Teman Baik

Saat kita berpisah dengan orang lain yang kita sayangi akan ada orang lain yang menggantikannya. Begitulah hukum alam yang ada, setiap perpisahan adalah awal bertemunya dengan sesuatu yang baru. Dan saat aku berpisah dengan sahabatku dulu ternyata kini Allah mempertemukan aku dengan orang yang sama-sama baik dari sahabatku dulu.

Ceritanya aku bertemu dengan seorang teman lama yang jadi teman baru. Teman lama karena ternyata dari dulu kami adalah satu angkatan satu jurusan walaupun beda offering sehingga nggak pernah satu kelas. Nah, kini aku sama dia satu kelas dan sama-sama terus. Bahkan tiap berangkat en pulang kuliah selalu antar jemput. Baik banget kan temanku ini?

Teman baruku ini sangat baik dan sabar. Entahlah, namun aku merasa belum bisa mengimbanginya. Bahkan, aku selalu menjadi manusia paling jahat sedunia kalau lagi sama dia. Habisnya dia cerewet banget dan aku sering nggak tahan. Ngoceh terus nggak tau kondisi orang yang lagi diajak ngomong. Aku berusaha untuk cuek dan ku iyain saja kalau dia ngomong tujuannya biar dia berhenti dan merasa kalau aku ini lagi nggak mood ngomong. Tapi kok  dianya nggak bisa ngerti, kalau aku lagi nggak pengen ngobrol. Caraku ini ternyata nggak berhasil karena nyatanya dia tetep ngomong terusss dan bawel. Terus aku harus gimana dong?

Kadang kalau dia lagi ngomong malah bikin aku tambah badmood. Aku juga kesal sama diriku sendiri kenapa aku bisa sejahat itu. Dengan caraku “cuek“ itu ternyata nggak mempan buat dia merasa kalau aku loh secara implisit mau ngomong kalau aku terganggu. Nah kalau sudah begini sebenarnya yang salah aku apa temanku? Aku yang nggak bisa ngerti temenku atau temenku yang nggak bisa ngerti aku? (jadi bingung).

Sebenarnya memang akulah yang salah. Karena aku sudah tahu kalau dia memang gitu (baca cerewet). Nah, sekarang pertanyaannya dia ngerti nggak kalau aku ini nggak tahan kalau diocehi terus? Sepertinya nggak bukan? Harusnya aku yang bisa ngertiin dia karena memang sifatnya seperti itu. Lagipula dia sudah sangat sabar menghadapiku dengan wajah cuekku ini. Aku emang sengaja pasang tampang cuek kalau dia lagi ngomong habis kalau ditanggepin bakalan nggak selesai-selesai. Dia masih tetap saja baik sama aku, masih tetap sabar dan nggak pernah pasang tampang wajah marah atau sebal padaku. Hiks jadi pengen nangis. Maafkan aku ya teman udah jadi temen yang jahat. Maafkan aku yang belum bisa ngimbangin kamu yang baik dan sabar. Harusnya aku bisa belajar darimu kawan, kalau kamu bisa menghadapi teman menyebalkan macam aku ini dengan kesabaran dan kebaikan, kenapa aku enggak bisa sedikit saja bersabar? L


* Saat tulisan ini ditulis tiba-tiba ada sms darinya “Reni sayang, kamu dikost?”
Lalu tidak berapa lama dia sudah muncul didepan kamarku dan membawakanku makanan.  J
*terharuuu


Tidak ada komentar:

Posting Komentar